Ritual Cinta Untuk Anak

“Setiap menjelang waktu subuh, ayah selalu membangunkanku dengan lembut. Tidak ada marah atau pun bentakan. Kami bersiap untuk sholat.”

“Ayah selalu memboncengku dengan motornya ke masjid jami’ yang jaraknya 2 km dari tempat kami tinggal. Setiap kali aku mengingat peristiwa itu, aku selalu tidak kuasa menahan air mata.”

“Setelah aku SMP , aku harus sekolah jauh dari ayah. Aku kehilangan ritual itu, tapi aku tidak pernah meninggalkan sholat subuh berjama’ah.”(Cerita seseorang tentang ayahnya).

Bunda Ayah…posisi kita sebagai orang tua terkadang sering membuat kita menjadi otoriter kepada anak. Kita lebih memilih menggunakan bahasa perintah, menggunakan ketegasan kepada anak ketika kita berharap ia bisa melakukan sesuatu.

Beberapa orang tua misalnya sering kali mengeluhkan sulitnya membangunkan anak di waktu subuh. Mengguncang-guncang tubuh anak, memercikkan air, membentak….adalah sebagian cara yang sering di gunakan.

Kalau pun berhasil, sang anak bangun dengan rasa terpaksa dan penuh kekesalan. Kita lupa tentang esensi dari hadirnya agama ini. Bukankah Allah telah menyampaikan kepada kita,
وَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً۬ لِّلۡعَـٰلَمِينَ

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya:107)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran:159)

Bunda Ayah…bukankah kita sedang ingin mengajak anak-anak kita mendekat kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bukankah Allah sudah mengatakan kepada kita “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

Kalau kita baca ayat tersebut terkait dengan metode dakwah Rasulullah secara umum. Lantas bagaimana halnya dengan anak-anak kita, buah hati kita? Pastilah kelembutan dan kasih sayang itu harus lebih mendominasi dalam setiap interaksi antara kita dan mereka.

Tidak bisakah kita membuat ritual cinta yang memberikan kesan mendalam kepada anak ?

Mari kita simak sebuah riwayat yang disampaikan langsung oleh Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu anha.

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ كَانَ أَشْبَهَ بِالنَّبِيِّ كَلاَمًا وَلاَ حَدِيْثًا وَلاَ جِلْسَةً مِنْ فَاطِمَةَ. قَالَتْ: وَكَانَ النَّبْيُّ إِذَا رَآهَا قَدْ أَقْبَلَتْ رَحَّبَ بِهَا، ثُمَّ قَامَ إِلَيْهَا فَقَبَّلَهَا، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهَا فَجَاءَ بِهَا حَتَّى يُجْلِسَهَا فِي مَكَانِهِ، وَكَانَ إِذَا أَتَاهَا النَّبِيُّ رَحَّبَتْ بِهِ، ثُمَّ قَامَتْ إِلَيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ. وَأَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ فِيْ مَرَضِهِ الَّذِي قُبِضَ فِيْهِ، فَرَحَّبَ وَقَبَّلَهَا، وَأَسَرَّ إِلَيْهَا، فَبَكَتْ، ثُمَّ أَسَرَّ إِلَيْهَا، فَضَحِكَتْ، فَقُلْتُ لِلنِّسَاءِ: إِنْ كُنْتُ لَأَرَى أَنَّ لِهَذِهِ الْمَرْأَةِ فَضْلاً عَلَى النِّسَاءِ، فَإِذَا هِيَ مِنَ النِّسَاءِ، بَيْنَمَا هِيَ تَبْكِي إِذَا هِيَ تَضْحَكُ. فَسَأَلْتُهَا: مَا قَالَ لَكَ؟ قَالَتْ: إِنِّي إِذًا لَبَذِرَةٌ. فَلَمَّا قُبِضَ النَّبِيُّ فَقَالَتْ: أَسَرَّ إِلَيَّ فَقَالَ: إِنِّي مَيِّتٌ؛ فَبَكَيْتُ، ثُمَّ أَسَرَّ إِلَيَّ فَقَالَ: إِنَّكِ أَوَّلَ أَهْلِي بِي لُحُوْقًا؛ فَسَرَرْتُ بِذَلِكَ؛ فَأَعْجَبَنِي

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi dalam bicara ataupun duduk daripada Fathimah.” ‘Aisyah berkata lagi, “Biasanya Nabi bila melihat Fathimah datang, beliau mengucapkan selamat datang kepadanya, lalu berdiri menyambutnya dan menciumnya, kemudian beliau menggamit tangannya dan membimbingnya hingga beliau dudukkan Fathimah di tempat duduk beliau. Demikian pula jika Rasulullah datang kepada Fathimah, maka Fathimah mengucapkan selamat datang kepada beliau, kemudian berdiri menyambutnya, menggamit tangannya, lalu mencium beliau. Suatu saat, Fathimah mendatangi Nabi ketika beliau menderita sakit menjelang wafat. Beliau pun mengucapkan selamat datang dan menciumnya, lalu berbisik-bisik kepadanya hingga Fathimah menangis. Kemudian beliau berbisik lagi kepadanya hingga Fathimah tertawa. Maka aku berkata kepada para istri beliau, ‘Aku berpandangan bahwa wanita ini memiliki keutamaan dibandingkan seluruh wanita, Dan memang dialah dari kalangan wanita. Dia tengah menangis, kemudian tiba-tiba tertawa.’ Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang beliau katakan kepadamu?’ Fathimah menjawab, ‘Kalau aku mengatakannya, berarti aku menyebarkan rahasia.’ Ketika Nabi telah wafat, Fathimah berkata, ‘Waktu itu beliau membisikkan kepadaku: Sesungguhnya aku hendak meninggal. Maka aku pun menangis. Kemudian beliau membisikkan lagi: Sesungguhnya engkau adalah orang pertama yang menyusulku di antara keluargaku. Maka hal itu menggembirakanku’.” (Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no.725)

Sungguh sebuah ritual antara ayah dan anak yang di dominasi oleh bahasa cinta. Kenapa kita tidak mencoba untuk menciptakan momen seperti ini. Sebuah momen yang mewakili rasa cinta kita terhadap anak-anak kita.

Sebuah momen yang dapat memberikan efek kepada kelembutan hati. Bukankah setiap anak memiliki kekhasannya masing-masing. Buatlah agar setiap anak memiliki kekhususan dengan diri kita.

Mengapa kita lebih memilih berteriak untuk membangunkan anak-anak kita ketimbang menciumnya lalu berbisik dengan lembut, “Nak, sudah subuh, itu azannya kedengaran”. Lalu kita tarik tangannya perlahan agar ia bisa terbangun dari posisi tidurnya.

Bukankah sebuah ciuman adalah cara paling sederhana untuk mendapatkan rasa sayang dari Allah ? من لا يَرحم، لا يُرحم (Siapa yang tidak menyayang, maka ia tidak akan di sayang).

Bukankah yang membolak-balikkan hati manusia adalah Allah Azza Wajalla? Semoga apa pun bentuk dan model ritual cinta yang kita lakukan dengan inspirasi dari ayah terbaik di alam ini, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam akan berbuah banyak kebaikan untuk anak-anak kita. (Elvin Sasmita)

Post Author: azzahrawo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *