Muslimah, Sekuntum Bunga di Padang Sahara

Sekuntum bunga di padang sahara. Ada yang kontras ketika kita mendengar ungkapan tersebut. Pertama, ketika kita mendengar kata sekuntum bunga, maka yang terbayang dalam benak kita adalah sesuatu yang wangi, segar, sejuk, indah, ada kupu-kupu atau kumbang dan fantasi keindahan lainnya.

Kedua, ketika kita mendengar kalimat padang sahara, maka tidak lain pasti yang tergambar dalam benak kita adalah sebuah tempat yang gersang, kering, kerontang, panas, gerah, berkeringat, debu-debu yang berterbangan, serta fantasi-fantasi lain yang berkaitan dengan padang pasir. Maka dari itulah, ketika dua kata yang memiliki fantasi berbeda ini kita satukan maka akan terasa kontras.

Namun sebenarnya ada hal yang lebih penting daripada sekedar melihat sisi kontras dari kedua kata itu. Ketika kata itu dipadukan maka akan ada panorama yang ajaib dan menakjubkan. Bayangkan saja, ada sekuntum bunga yang tumbuh di tengah-tengah hamparan padang sahara yang panas. Disana tidak ada bunga lain selainnya. Merekah indah. Menyimpan sejuta keajaiban, bahkan lebih.

Sebenarnya, seperti itulah perumpamaan kaum muslimah hari ini. Layaknya bunga yang berada di padang pasir. Lebih banyak cobaan dan ancaman daripada sarana yang mendukung.

Jaman sudah terlanjur ‘edan’. Jika kaum muslimah tidak mau ikut-ikutan edan, maka akan ketinggalan jaman. Ikut-ikutan edan ini bermacam-macam bentuknya. Bisa dengan mengikuti trend berpakaian yang mempertontonkan setiap ‘relief’ tubuh. Serba tipis dan minimalis, atau kalau disingkat menjadi STM.

Pergaulan bebas juga merupakan tradisi yang meramaikan edannya jaman. Tidak sedikit dari saudari-saudari kita yang dulunya istiqamah dan berhati-hati dalam pergaulan, khususnya dengan lelaki yang non muhrimnya, namun setelah masuk ke dunia kampus atau dunia kerja, prinsipnya sedikit demi sedikit luntur. Alasannya sederhana, demi profesionalitas atau sebuah tuntutan peran (he..he..he…kayak main film aja). Kalau tidak begitu takut dibilang ‘kolot’ atau sok suci. Komitmen pun diterjang. Akhirnya pergaulan dengan lawan jenis pun menjadi cair.

Inilah sahara jaman. Terik ‘nafsu’ sangat panas menyengat. Debu-debu ‘kemaksiatan’ bertebaran dimana-dimana, seolah-olah ada disetiap celah kehidupan. Kalau sudah bicara nafsu, maka biasanya yang menjadi pertimbangan sebuah tindakan adalah ‘enak atau tidak enak’, bukan lagi baik atau tidak baik. Karena tidak semua yang enak itu baik. Inilah bedanya antara nafsu dengan fitrah naluriah.

Step by step, tapi pasti. Itu karakteristik kerja nafsu dalam menjebak kita. Awalnya hanya sebatas ketertarikan pada tawaran nafsu. Lalu mencicipinya, tapi sedikit. Lama-lama mencicipi banyak. Akhirnya ketagihan. Dalam hal apapun juga. Hingga akhirnya kita tidak sadar kalau ternyata kita sudah menyimpang jauh dari fitrah kita. Ini seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Tiga kali Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita untuk tidak mengikuti langkah-langkah syaitan dengan kalimat yang sama. Pertama adalah ayat diatas, kedua pada surat Al-Baqarah ayat 168, dan ketiga pada surat al-An’am ayat 142. dan Allah Swt menyebutnya dengan kata “khutuwat” yaitu langkah-langkah. Karena biasanya seseorang itu melakukan sebuah perbuatan yang menyelisihi fithrahnya dengan cara sedikit demi sedikit. Tidak serta merta kontan. Tapi biasanya ada dramatisasi nafsu terlebih dahulu. Hal ini setidaknya menjadi catatan penting bagi kita untuk senantiasa berhati-hati agar tidak terjatuh dalam jebakan syaitan.

Sahara jaman. Sangat panas dan terik. Jika terlena dengan keadaan, maka ibarat bunga, ruh keislamannya akan layu, atau bahkan mati. Karena itu, perlu kita perjelas lagi siapa sebenarnya kuntum-kuntum bunga yang masih sanggup merekah dibawah sengatan terik sahara jaman?

Mereka adalah para muslimah yang masih menjaga kehormatannya disaat wanita-wanita lain mengobralnya dengan harga murah.

Mereka adalah para muslimah yang masih mampu bangkit dan berjuang untuk kemuliaan hidup sebagaimana yang digariskan Tuhannya disaat yang lain bermain-main.

Mereka adalah para muslimah yang bersungguh-sungguh memegang al-Qur’an dan as-Sunnah disaat yang lain meninggalkan kedua wasiat mahal Sang Rasul.

Mereka adalah para muslimah yang masih tetap menutup auratnya, sekalipun terik dan panas menyengat, disaat yang lain memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya.

Mereka adalah para muslimah yang tak pernah putus asa meraih rahmat Tuhannya, disaat yang lain sudah tak lagi mempedulikannya.

Mereka adalah para muslimah yang gemar beribadah disaat yang lain jauh dari Tuhannya.

Mereka adalah para muslimah yang ridho dengan keputusan Allah disaat yang lain selalu menggerutu dan menyalahkan keadaan.

Mereka adalah para muslimah yang mengumpulkan bekal ketakwaan untuk kampung akhirat disaat yang lain telah terlena dengan kenikmatan dunia. (cs)

Post Author: azzahrawo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *